IMG-20250704-WA0011

Ilustrasi bulan muharram (internet)

Albanjari.com, Martapura – Hari ke-10 bulan Muharram atau ‘Asyura’ merupakan hari yang memiliki keutamaan besar dalam agama Islam. Selain dianjurkan berpuasa, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah juga menyebutkan berbagai amalan (amaliyah) yang dianjurkan pada hari ini berdasarkan hadis, atsar, dan ijma ulama salaf, meski sebagian berstatus fadhail amal (keutamaan amal) yang tidak disyaratkan harus shahih secara sanad.

1. Puasa ‘Asyura

Amalan utama yang sangat dianjurkan pada hari ini adalah puasa Asyura, yaitu puasa tanggal 10 Muharram. Hadis sahih menyebutkan:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Dalam Majmu’ Syarah Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi (Beirut: Darul Fikr) juz 6 hlm. 379 dijelaskan bahwa puasa Asyura adalah sunnah muakkadah dan lebih utama digandeng dengan puasa Tasua (9 Muharram) untuk menyelisihi Yahudi.

2. Meluaskan Nafkah kepada Keluarga

Amalan ini juga masyhur di kalangan umat islam, meskipun haditsnya tergolong dhaif hasan li ghairihi karena banyaknya jalur periwayatan:
a. Imam Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman, (Beirut: Darul Kutub llmiyyah) hal.3511 berikut ini:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

Artinya: “Barangsiapa meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun.”

b. Imam Sakhawi Dalam Kitab Maqaṣidul Ḥasanah (Beirut: Darul Kutub llmiyyah) hlm. 483, menyebutkan bahwa hadits ini diamalkan oleh ulama dan dianggap memiliki dasar yang dapat diterima dalam fadha’il amal.

3. Amalan Lain di Hari Asyura

Syaikh Abu Bakar Syatha dalam Kitab I‘anatuth Thalibin (Beirut: Darul Fikr) juz 2 hlm. 267 menjelaskan berbagai amalan yang dianjurkan di hari Asyura:

1. Mandi (ghusl) di pagi hari.
2. Memakai wewangian dan baju terbaik.
3. Bersedekah, terutama kepada anak yatim.
4. Memasak makanan istimewa, seperti bubur atau hidangan manis sebagai bentuk kegembiraan.
5. Shalat sunnah empat rakaat dengan niat ibadah.
6. Membaca Surat Al-Ikhlas 1000 kali, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama dalam fadha’il.

Amalan-amalan ini termasuk dalam kategori ta‘zim lil yaum (mengagungkan hari yang dimuliakan), yang diperbolehkan dalam kerangka amal saleh selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau sunnah muakkadah.

Dikutip dari NU Online Jombang bahwa Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur dalam sebuah nazam menjelaskan, sebagai berikut:

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

Artinya: “Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, shalat lah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjengk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.”

Secara detail nazam ini menyebutkan setidaknya ada 12 amalan yang dapat dikerjakan pada bulan Muharram, yakni:

1. Melakukan shalat
2. Berpuasa
3. Menyambung silaturahim
4. Bersedekah
5. Mandi
6. Memakai celak mata
7. Berziarah kepada ulama (baik yang hidup maupun yang sudah meninggal)
8. Menjenguk orang sakit
9. Menambah nafkah keluarga
10. Memotong kuku
11. Mengusap kepala anak yatim
12. Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.

Imam Nawawi dalam Al-Azkar menegaskan bahwa amalan-amalan yang bersifat fadha’il (keutamaan) boleh diamalkan meskipun haditsnya dhaif, selama tidak maudhu’ (palsu) dan tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib.

Penutup

Hari Asyura bukan hanya peristiwa sejarah, tapi juga hari pengampunan dan rahmat. Amalan-amalan pada tanggal 10 Muharram adalah bagian dari usaha untuk meraih keberkahan, penghapusan dosa, dan kecintaan kepada keluarga dan sesama.

Menghidupkan Asyura dengan amal seperti puasa, sedekah, memperbanyak doa dan kebaikan adalah bentuk kecintaan kepada sunah Rasulullah dan tradisi para salafus shalih.


Penulis: Ahmad Mursyidi                  Editor: Muhammad Fahrie