oplus_0

Foto manuskrip konferensi ke-1 NU Cabang Martapura

Albanjari.com, Martapura – Dari ribuan cabang yang menjulang di pulau Jawa, satu dipilih untuk dicangkok. Setelah siap, cabang itu ditanam jauh di pulau seberang, pulau Borneo.

Dalam sebuah manuskrip berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab Melayu, tercatat sebuah metafora yang begitu sarat makna historis. Pohon besar yang tumbuh kokoh di Pulau Jawa, dengan ribuan cabangnya akan segera memiliki cangkokan pertama di luar pulau kelahirannya.

Ia adalah saksi bisu dari sejarah penting lahirnya Cabang Nahdlatul Ulama Martapura yang merupakan cabang NU pertama di luar pulau Jawa.

Dalam lembaran lama majalah Soeara Nahdlatul Oelama halaman 37 yang bertajuk Nahdlatul Ulama Cabang Matapura: Borneo tersimpan catatan berharga tentang momen bersejarah.

Lembaran majalah “soeara nahdlatoel oelama”

Tulisan itu ditulis oleh Kyai Alwi bin Abdul Aziz –akrab dipanggil Mas Alwi- yang selesai ditulis pada 09 Juni 1930. Dokumentasi autentik tentang bagaimana NU mulai tumbuh di tanah Borneo.

Mas Alwi merupakan tokoh yang dikenal sebagai pengusul nama Nahdlatul Ulama dari yang sebelumnya Nuhudhlul Ulama (kata nuhudh dalam bentuk jamak) di hadapan Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari saat detik-detik pengesahan nama jamiyah NU.

“Lajeng poro sepuhipun [kyai-kyai] Martapoera rembaken badji’ hendere’i nyangkuk sekedi’ sakeng wau wiwitan badji’ ketanem wowen tanah Borneo,” tulis Mas Alwi dalam bahasa Jawa.

Terjemahnya, “Kemudian para tatuha [kyai-kyai] Martapura bermusyawarah ingin mendirikan/mencabangkan dengan sedikit mencangkok pohon tersebut supaya bisa ditanam di tanah Borneo).”

Dalam catatan Mas Alwi, keinginan para tokoh ulama dari Martapura untuk mendirikan cabang NU sudah ada sejak lama. Ini bukti bahwa nama dan peranan Nahdlatul Ulama semakin harum, dan aroma semerbaknya tercium hingga ke pulau Borneo.

“Mboten kesamaran maleh wangine sesekari jam’iyah kito. Rupa-rupane tambah ngandung ambetipon (wangine) setengah saking tondo (dalil) eng sariheneng ahli Martapura (Borneo) sampon ndangu angginipon mambat wangi-wangi lajeng sami ngucali saking arah pundi.”

Artinya, “Tidak diragukan lagi semerbak harumnya perkumpulan kita. Nampaknya bertambahnya kemasyhuran merupakan sebuah tanda berhubung tokoh Martapura (Borneo) sudah lama merasakan semerbaknya, kemudian sama-sama mencari dari arah mana itu.”

Metafora ini telah menggambarkan bagaimana pengaruh dan reputasi NU yang menyebar luas, bahkan melampaui batas geografis Pulau Jawa. Para ulama Martapura yang kala itu berada ribuan kilometer dari pulau Jawa telah merasakan “aroma semerbak” Nahdlatul Ulama.

Cita-cita besar para tokoh ulama Martapura untuk mencari tahu darimana aroma tersebut berasal akhirnya ditemukan. Segenap dari mereka kemudian menggelar pertemuan yang berisi perbincangan dan musyawarah untuk pendirian Cabang NU di Martapura.

Musyawarah bersejarah tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mencangkok sedikit cabang dari pohon besar tersebut.

“Ko kepangkeh si ambet wangi wau sakeng sekaripun wiwiytan (tanduran) Nahdlatul Ulama lajang poro sepuhipun (Kyai-kyai) Martapura rembakan badji’ handere’i nyangkuk sekedi’ sakeng wau wiwitan badji’ ketanem wowen tanah Borneo.”

Terjemah lepasnya, “Lah.. ternyata ketemu yaa harumnya tadi dari segarnya pohon/ batang (pepohonan) Nahdlatul Ulama. Kemudian para tetuha (kyai-kyai) Martapura bermusyawarah ingin mendirikan/mencabangkan dengan sedikit mencangkok pohon tersebut supaya bisa ditanam di tanah Borneo.”

Tokoh sentral dalam proses pendirian Cabang NU Martapura adalah Tuan Guru H Abdul Qadir Hasan yang dikenal dengan sebutan Guru Tuha.

Foto Guru Tuha
yang terletak di kantor NU Kab. Banjar

Beliaulah yang menulis surat permohonan pengesahan Cabang NU di Martapura, lengkap dengan daftar nama-nama tokoh ulama yang menjadi pengurus periode pertama –bahkan diduga proses pengiriman surat itu tidak selesai dalam sekali pengiriman.

Pemilihan kata “mencangkok” dalam metafora ini sangat bermakna.

Dalam dunia pertanian, pencakokan adalah teknik perbanyakan tanaman yang memungkinkan sifat-sifat unggul dari pohon induk tetap terjaga pada tanaman baru.

Dengan demikian, pendirian NU Cabang Martapura bukan sekedar pendirian jamiyah baru, melainkan perpanjangan dan penyebarluasan langsung dari nilai-nilai tradisi dan visi misi NU yang sudah mengakar kuat di Jawa.

“Supados pengipun wau wiwiytan saget ngembang (mbegar wah megar) lajeng henderek wangi ambatipun tanah Borneo.”

Maknanya, “Supaya cabang dari pohon tersebut bisa berkembang subur setelah mendirikannya juga semerbak di tanah Borneo.”

Kisah lahirnya NU Cabang Martapura adalah cerita tentang bagaimana ide-ide besar dapat menyeberang lautan, bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensinya, dan bagaimana sebuah “cangkokan” kecil dapat tumbuh menjadi pohon besar yang memberikan naungan bagi jutaan umat.

Di tanah Borneo yang subur itu, “cangkokan” dari pohon besar NU Jawa tidak hanya hidup, tetapi juga berbuah dan menghasilkan benih-benih baru yang terus menyebar ke seluruh Nusantara.

Demikianlah cara Islam tradisional Indonesia memperluas sayapnya -dengan hikmat, musyawarah, dan penuh berkah.


Penulis: Anwar Syarif