Oplus_131072

M. Ali Syahbana Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar

Albanjari.com, Dalam ajaran Islam, eksistensi manusia tidak terlepas dari harmoni antara akal dan jiwa, antara pikiran dan hati. Sebagaimana ditekankan oleh Imam Yahya bin Muadz Al-Razi:

(مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ)

Artinya: “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya dia akan mengenal Tuhannya”

Menggali makna diri adalah pintu menuju penyatuan akal dan nurani yang menuntun seorang hamba pada kehidupan yang bermakna.

Kini, kita hidup di pinggir zaman yang penuh gegap gempita teknologi, arus informasi tanpa henti, dan kompleksitas sosial. Dalam konteks ini, berpikir saja tidak cukup tanpa kekuatan jiwa yang mampu menenangkan dan memberi makna. Psikologi modern mengakui betapa pentingnya kesadaran diri dan kesehatan mental, yang selaras dengan ajaran Islam yang mengedepankan keseimbangan spiritual dan rasionalitas.

Berpikir dan berjiwa dalam Islam bukan ritual kosong, tetapi cara hidup menyeluruh yang melekat dalam kesadaran untuk beriman, bertindak adil, dan berkontribusi sosial. Di tengah dinamika dunia modern, terutama masyarakat Banjar dan umat NU, kesatuan ini menjadi pondasi kuat untuk menavigasi pengaruh zaman.

Jiwa yang berakar pada nilai keimanan dan akal yang terasah oleh ilmu pengetahuan harus berjalan seiring. Keduanya membentuk harmoni yang tidak hanya menjaga individu tetap sehat rohani dan jasmani, tetapi juga mendorong umat untuk menjadi agen perubahan bagi kemaslahatan umat.

Di pinggir zaman ini, mari kita jadikan berpikir dan berjiwa sebagai peta dan kompas dalam mengarungi kehidupan, menyelaraskan nalar dan nurani untuk keberlangsungan eksistensi manusia yang bermakna dan penuh berkah.

M. Ali Syahbana, Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kabupaten Banjar


Penulis: M. Ali Syahbana                    Editor: Muhammad Fahrie