IMG-20251118-WA0043

Sumber: Net (Foto Istimewa)

Albanjari.com – Sejak kecil Rabiah adalah anak yang cerdas dan sangat suka menghafal. Rabiah hafal Al-Qur’an saat baru menginjak usia 10 tahun. Namun malang tak bisa ditolak, ia juga menjadi yatim piatu sejak kecil dan kehilangan ketiga kakaknya saat Kota Basrah dilanda musibah kekeringan dan kelaparan.

Saat musibah ini pula kejahatan dan perbudakan merajalela. Rabiah dijadikan budak, ia dijual oleh perampok seharga enam dirham. Sebagaimana budak, perlakuan kejam dan pekerjaan berat pun terpaksa dilakoninya. Rabiah menjadi budak dari keluarga Kaum Mawali al-Atik yang masih ada hubungannya dengan Bani Adwa. Al-Atik berasal dari suku Qais. Dari sinilah ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah. Meski nama belakang Al-Adawiyah didapatkan dari perbudakan, namun namanya ternyata begitu harum di dunia tasawuf dan kalangan filsuf serta tidak terkikis oleh zaman.

Saat siang hari Rabiah menjalani tugas sebagai budak, diperlakukan dengan bengis, namun tak sekalipun ia mengeluh walau harus membanting tenaga dan tulang untuk semua perintah Tuannya yang kadang sangat kejam. Namun saat malam hari, Rabiah mengabdikan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. untuk beribadah.

Pada suatu malam karena banyaknya tugas yang dikerjakan oleh Rabiah, ia pun terlambat untuk beribadah kepada Allah. Rabiah begitu sedih seraya merintih, “Ya Tuhanku, Engkau tahu bahwa hatiku selalu mendamba-Mu dan benar-benar tunduk pada perintah-Mu. Cahaya mataku mengabdi pada kerajaan-Mu. Jika itu terserah pada-Mu, aku tidak akan berhenti menyembah-Mu barang sesaat pun. Namun, engkau telah membuatku tunduk pada satu makhluk. Oleh karena itu, aku terlambat datang dalam beribadah kepada-Mu.”

Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah; Bayi Merah Yang Berselimutkan Sepotong Kain Basah

Ternyata, Tuan dari Rabiah mendengar rintihan doa yang dipanjatkan oleh Rabiah. Tuannya pun merasa malu dan akhirnya Rabiah dibebaskan dari perbudakan. Rabiah ditawari untuk tetap tinggal di rumah tuannya, namun Rabiah menolak. Rabiah pergi menyendiri menjauhi hal ke-duniawian, ia mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah dan menyairkan cinta yang romantis hanya untuk Allah.

Salah satu syair termasyhurnya ialah:

إلهي، إن كنتُ أعبدك خوفًا من النار فاحرقني في النار وإن كنتُ أعبدك رغبةً في الجنّة فاحرمني أبوابها، أمّا إن كنتُ أعبدك لذاتك وحدك فامنحني جمال وجهك

Artinya: “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku dengan api neraka Jahannam. Dan jika aku menyembah-Mu karena menginginkan surga, maka halangilah aku untuk mencapai-Nya. Namun, jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku terhadap-Mu, maka jangan Engkau halangi aku untuk melihat keindahan-Mu yang abadi.”

Sumber : Perjalanan dan Cinta Wanita Sufi Rabiah al-Adawiyah, Azee, Naviel Malakian

Isnawati, Mantan Ketua PAC IPPNU Karang Intan, Kabupaten Banjar


Editor: Muhammad Fahrie