Oplus_131072

Tuan Guru Salman bersama Guru Sekumpul (foto: istimewa)

Albanjari.com

اطلُبُوا العِلْمَ مِن المَْهدِ ِإلَى اللَحْدِ

“Belajarlah dari masa buaian hingga liang lahat.”

Hadis Nabi tersebut bukan sekadar slogan tentang kewajiban belajar, melainkan prinsip hidup yang
benar-benar diwujudkan oleh Guru Salman. Sosok beliau adalah potret nyata seorang santri sejati, yaitu belajar tanpa batas usia, mengaji tanpa mengenal gengsi, dan beramal tanpa merasa cukup.

KH. Muhammad Salman, demikian nama lengkap beliau. lahir di Dalampagar pada tahun 1916 M dari pasangan KH. Abdul Jalil dan Syaja’ah. Sebagai keturunan kelima dari ulama besar Kalimantan, Syekh Arsyad al-Banjari, beliau tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi keilmuan dan spiritualitas. Sejak kecil, Guru Salman telah menunjukkan himmah yang tinggi dalam menuntut ilmu.

Perjalanan keilmuan beliau dimulai dari rumah, belajar kepada pamannya, Qadhi H. M. Thaha. Dari sinilah fondasi keilmuan beliau terbentuk. Kecintaan terhadap ilmu kemudian mengantarkan beliau melanjutkan pengembaraan ilmiah hingga ke Mekkah. Di Tanah Suci, Guru Salman berguru kepada puluhan ulama dari berbagai disiplin ilmu. Masa belajar tersebut tidak selalu mudah, berbagai keterbatasan dan rintangan sering kali mewarnai masa mengaji beliau. Namun semua itu justru menempa kesabaran dan keistiqamahan beliau dalam mengaji.

Baca juga: Sikap Guru Seman Mulia Ketika Kakinya Patah

Selama di Mekkah, beliau menjalani masa belajar bersama sahabat dekatnya, KH. Semman Mulya, yang kemudian dikenal dengan sebutan Guru Padang. Bahkan kondisi sulit pada masa Perang Dunia, yang berdampak pada kehidupan dan keamanan di Mekkah, tidak membuat beliau surut dari perjuangan ilmu. Bagi beliau, kesulitan bukan alasan untuk berhenti belajar, melainkan ujian yang menguatkan niat.

Sekembalinya dari Mekkah, Guru Salman mengabdikan ilmunya dengan mengajar di berbagai tempat,
diantaranya di kampung halamannya, Dalampagar, serta di Madrasah Darussalam Martapura. Disamping mengajar, beliau juga dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Pengawas Pengadilan Agama se-Kalimantan.

Keluasan ilmu beliau, khususnya dalam bidang falak, menjadikan Guru Salman dikenal luas sebagai Guru Falak. Keahliannya di bidang ini membuat beliau masyhur bahkan disebut-sebut sebagai salah satu ahli falak paling mumpuni di Indonesia pada masanya.

Baca juga: Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, Ulama Besar Kalimantan

Namun yang paling mengesankan dari sosok Guru Salman adalah kerendahan hatinya. Dengan segala ilmu, pengalaman, dan jabatan yang pernah diemban, beliau tidak pernah merasa selesai dalam belajar. Sekitar tahun 1970-an, beliau justru mengambil keputusan besar yaitu dengan melepaskan seluruh jabatan dan menghentikan aktivitas mengajar demi kembali fokus menuntut ilmu.

Atas arahan KH. Syarwani Abdan (Guru Bangil), Guru Salman kemudian mengaji kepada dua ulama besar, yakni sahabatnya sendiri, Guru Semman, serta KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) yang sebelumnya pernah menjadi murid beliau ketika belajar di Darussalam. Sikap ini menjadi teladan besar bagi santri bahwa ilmu tidak diukur dari usia, jabatan, atau status, melainkan dari keikhlasan untuk terus belajar.

Baca juga: Ketika Guru Bangil Menolak Sekoper Uang

Di samping kesungguhan dalam menuntut ilmu, Guru Salman juga dikenal sangat menjaga ibadah dan
amalan. Bahkan, beliau memiliki lemari khusus yang berisi catatan amalan dan zikir yang secara rutin beliau wiridkan. Dari beliau kita belajar bahwa Ilmu dan amal harus berjalan beriringan.

Pada malam Rabu, 17 Rajab 1420 H, bertepatan dengan 27 Oktober 1999, Guru Salman menghembuskan nafas terakhir. Beliau dimakamkan di Sekumpul, di samping sahabat sekaligus guru beliau, Guru Semman. Hal ini seolah menegaskan bahwa persahabatan dan perjalanan ilmu kedua ulama tersebut terus berlangsung hingga akhir hayat.

Dari sosok Guru Salman, kita belajar bahwa menjadi santri sejati bukanlah soal seberapa banyak ilmu yang dikuasai, melainkan seberapa besar kesungguhan untuk terus belajar, karena tidak ada kata selesai dalam belajar. Selain itu, kita juga belajar kewajiban rendah hati, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan. Terakhir, semoga kita tidak hanya mengenang beliau sebagai tokoh besar, tetapi juga meneladani jejak langkahnya dalam mengarungi jalan ilmu dan amal.

Muhammad Zein Wildan, Alumni Pondok Pesantren Tebuireng dan Pengurus SPM Darussalam Tahfidz & Ilmu Al-Qur’an


Penulis: Muhammad Zein Wildan  Editor: Muhammad Fahrie