aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash

Foto al-Qur'an (sumber: unsplash)

Albanjari.com, Martapura – Ditakdirkan menjadi pendidik Al Quran berarti menjadi manusia pilihan. Tetapi, apakah menjadi pendidik Al Quran juga memang ditakdirkan menjadi manusia yang kurang mendapat perhatian?

Di balik tangis haru orang tua saat mendengar anaknya fasih membaca Al Quran, ada tangis duka yang harus ditelan sendirian oleh seorang Guru TPA saat mengajarkan Al Quran.

Satu contoh, ketika beberapa anak memutuskan berhenti mengaji karena alasan jadwal les yang padat. Kendati sebenarnya les itu bukan persoalan, tetapi mereka mengesampingkan pendidikan Al Quran hingga harus berhenti. Padahal memberikan pendidikan Al Quran kepada anak, bagi orang tua adalah kewajiban sekaligus bentuk investasi akhirat untuk orang tuanya sendiri.

Apalagi soal gaji Guru TPA, jika mendengar hitungan matematikanya mungkin dirinya sendiri saja sukar untuk tahu itu. Sangking cemasnya. Karena menjadi Guru TPA adalah pilihan hidup untuk mendarmabaktikan diri demi agama.

Setidaknya potret tersebut sudah menggambarkan bahwa Guru TPA masih kurang mendapatkan validasi, baik dari orang tua itu sendiri ataupun lembaga yang berwenang di bidang pendidikan.

Walaupun demikian, masih banyak juga orang tua yang rela menghabiskan waktu demi mengantarkan anak belajar Al Quran di TPA. Bahkan rela menunggu sampai anaknya selesai belajar.

Alih-alih berbicara soal validasi, Guru TPA ternyata juga menyimpan kisah harunya sendiri.

Berangkat dari pengalaman pribadi penulis sebagai salah satu Guru TPA di Kabupaten Banjar. Ketika menyaksikan anak didik mampu mengaji dengan fasih, itu adalah puncak kebahagiaan.

Lebih-lebih jika mengingat momen saat ada anak didik yang dulunya dipandang berbeda oleh teman-temannya bisa tersenyum bahagia karena mendapat prestasi juara 1 di kelasnya. Lelah dan letih selama mengajar seakan sirna seketika. Ketika namanya disebut, mataku berkaca-kaca. Haru dan bangga.

Semua itu berkat kegigihan dan pengarahan dari seorang guru yang mengajar tanpa pamrih.

Di momen yang berbeda, bahkan hanya dari sapaan teduh dari anak didik yang dulu pernah saya masuki kelasnya. Karena dulu saya hanya guru pengganti sebelum akhirnya sekarang menjadi guru tetap di TPA yang berbeda. Ketika sapaan teduh anak itu memintaku masuk kembali ke kelas untuk mengajarinya.

“Ustadzah.. masuk ke kelas kami lagi?” Tanyanya saat menyambutku datang.

“Ayo Ustadzah masuk lagi di kelas kami,” sambut anak itu yang membuatku merasakan sambutan kehangatan.

Begitulah momen haru yang penulis rasakan sebagai Guru TPA.

Lelah dan duka Guru TPA saat mengajar menjadi jasa besar terhadap keberhasilan generasi penerus agar kalam ilahi terus dilantunkan. Lantas, kapankah Guru TPA akan mendapat validasi dan perhatian yang layak dari sejumlah pihak? Belajar membaca Al Quran seakan dipandang sebelah mata dibandingkan dengan pendidikan formal yang ada.


Penulis: Shofia Kamil
Editor: Anwar Syarif