Oplus_131072

Sumber: as'ad yusuf

Albanjari.com, Martapura – Diceritakan bahwa suatu hari 10 Muharram ada seseorang lelaki miskin beserta istri dan anaknya, mereka berpuasa di hari itu akan tetapi mereka tidak punya apa-apa untuk berbuka nantinya.

lelaki itu keluar dari rumahnya untuk berkeliling barangkali ada orang-orang dermawan yang mau berbagi untuk mereka. Akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa, ia masih dengan tangan kosong dan perut laparnya.

Tidak tega pulang dengan tangan kosong, lelaki itu mencoba masuk ke sebuah pasar yang di dalamnya orang-orang saling bertukar mata uang. Lalu ia melihat seorang lelaki Muslim yang ia kenali sedang asik merapikan tokonya, menghampar emas dan perak yang dimiliki.

Lalu lelaki miskin itu menuju ke arahnya dan memberi salam kepadanya. Lalu ia menyampaikan maksudnya, meminta belas kasih dari lelaki muslim tadi:

“Tuanku.. aku tidak memiliki apa-apa, baragkali tuan bersedia memberikan hutang satu dirham kepadaku agar aku bisa membelikan makanan berbuka untuk keluargaku. Kalau tuan bersedia, aku akan mendo’akan kebaikan untuk Tuan di hari ini”

Lelaki muslim itu tidak mau, bahkan ia memalingkan wajahnya dari lelaki miskin itu tanpa memberikan apapun kepadanya. Lalu lelaki miskin itu beranjak pergi, kepalanya menunduk ke bawah, hatinya patah, pipinya yang kering menjadi basah.

Sambil berjalan, tiba-tiba ada seseorang menghampirinya, ternyata ia adalah seorang lelaki nonmuslim (Yahudi) yang bertetangga dengan lelaki muslim tadi.

Lelaki Yahudi itu mengajaknya bicara :
Tadi aku melihatmu berbicara dengan tetanggaku, apa yang sedang kalian bicarakan tadi?

Dengan nada sedih lelaki miskin itu menjawab:

“Aku bermaksud meminjam uang satu dirham kepadanya agar aku bisa membelikan makanan untuk keluargaku yang sedang berpuasa, tapi ia tidak berkenan walaupun jika aku mendo’akan kebaikan untuknya di hari ini,”

Lelaki yahudi itu bertanya: Memangnya ada apa dengan hari ini?
Si miskin menjawab: Ini adalah hari ‘Asyura ia menjelaskan kelebihan-kelebihan hari ‘Asyura.

Setelah mendengar penjelasan dari si miskin tadi, lelaki yahudi itu memberikan 10 dirham kepada si miskin tadi.

“Ambil lah uang ini dan gunakanlah untuk memenuhi kebutuhan keluargamu,” ucapnya.

Kemudian, si miskin pergi beranjak pulang dengan hati yang senang karena bisa membelikan makanan-makanan yang enak untuk keluarganya dengan uang tadi.

Memasuki waktu malam, pasar-pasar sudah mulai tutup, orang-orang kembali ke rumah untuk beristirahat, tak terkecuali orang yang tadi pagi menolak membantu si miskin.

Pada saat lelaki muslim itu tertidur, ia bermimpi seakan-seakan kiamat sedang terjadi, ia merasakan kehausan dan dahaga yang teramat berlebihan.

Lalu di dalam mimpinya itu, ia berjalan kesana kemari mencari bantuan, melihat sana sini, tiba-tiba ia melihat sebuah istana yang begitu megah kokoh berdiri, dindingnya terbuat dari mutiara, pintu-pintunya berbahan yaqut merah menyala.

Sembari menengadahkan kepalanya, Lelaki muslim itu berkata: “Wahai tuan pemilik istana, berikanlah aku seteguk air,”

Tiba-tiba ada suara terdengar mengatakan:

“Istana ini sebenarnya kemarin milikmu. Tapi setelah kamu tidak mau membantu orang miskin itu dan bahkan kamu membuatnya sakit hati, maka namamu dihapus dari kepemilikannya. Lalu diganti dengan nama seorang yahudi tetanggamu. Ia sungguh telah berbaik hati membantu si miskin dengan memberikannya 10 dirham.”

Tiba waktu pagi, lelaki muslim itu merasa sangat bersalah, ia mengutuk dan mencaci dirinya sendiri, lalu ia mendatangi yahudi tetangganya itu, ia memulai pembicaraan:

“Kamu kan tetanggaku, maka berarti ada hak-hak yang boleh aku pinta kepadamu, dan kebetulan saat ini aku membutuhkan bantuanmu.”

“Apa yang bisa aku bantu?” Yahudi itu menimbalinya.

Lelaki muslim itu mengungkapkan maksudnya:
Tukarkanlah balasan 10 dirham yang sudah engkau berikan kepada si miskin itu, aku bersedia membayarnya dengan 100 dirham.

Yahudi itu menjawab:
Demi Allah, Bahkan dengan 100.000 dinar pun aku tidak akan mau, sama seperti jika kau meminta untuk masuk dari pintu istana yang kau lihat tadi malam, aku tidak akan membiarkanmu memasukinya.

Lelaki muslim itu kaget lalu bertanya: siapa yang memberi tahumu tentang apa yang aku alami di dalam mimpiku tadi malam?

Yahudi itu menjawab:

Aku diberitahu oleh zat yang jika ia berkehndak, maka apapun itu akan terjadi, dan sungguh aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.
_____________

Syaikh Abi Bakr Syatha menambahi :

Saudara-saudaraku..
Lihatlah, orang itu hanya seorang yahudi, ia tidak tahu menahu keagungan hari ‘Asyura. Ia hanya berbaik sangka mengenai cerita Hari ‘Asyura dari si miskin tadi.
Tapi dengan itu Allah memberikan anugerah yang begitu besar, Allah berikan nikmat islam kepadanya.

Maka bagaimana bisa ada orang yang sudah tahu kelebihan-kelebihan hari ‘Asyura, tapi tidak mau berbuat baik di hari tersebut?

*)Diterjemahkan dari :
Hasyiah I’anatutthalibin Juz 2 Hal 302-303 Darul Fikri.
____________

Cerita di atas memberikan kita beberapa pelajaran:

1. Hari ‘Asyura adalah hari yang agung, Sehingga amal-amal kecil di dalamnya berbuah besar.
2. Tidak hanya memberi rizki lebih kepada keluarga yang dinilai baik, tetapi membantu orang yang sedang berjuang untuk keluarganya itu juga sebuah kebaikan dan diberikan balasan yang besar.
3. Amal baik dapat melahirkan hal-hal baik dalam kehidupan.


Penulis: As’ad Yusuf                            Editor: Muhammad Fahrie